Perselingkuhan dan Perceraian, Buat Anak Terlantar

Interaksi sosial yang komleksitas di tengah revolusi Tehnologi Informasi (IT) telah menimbulkan ekses yang beragam. Setiap orang Indonesia rata-rata memiliki Hndphone atau Android, Laptop, Komputer, Note Book, atau lain sebagainya semua memberikan fasilitas dalam vitur-vitur yang telah umum digandrungi oleh masyarakat Indonesia, baik kalangan anak, remaja, atau kalangan orang dewasa dan orang tua.

Begitu mudah kita mengakses dan berkomunikasi dengan siapa saja diabad ini. Dan sebagian besar alat komunikasi tersebut banyak yang disalahgunakan bukan hanya digunakan sekedar bertukar informasi untuk saling berbagi ilmu pengetahuan, untuk kepentingan bisnis, untuk acara-acara sosial, tugas kantor dan keluarga tapi lebih banyak digunakan untuk mengakses hal-hal yang berkaitan dengan pornografi dan porno-aksi.

Bangsa Indonesia yang sebagian besar hobbynya senang iseng tidak menyadari bahwa informasi yang diakses memberikan energi rangsangan yang luar biasa untuk melampiaskan rasa ingin tahu, curhat dan lain sebagainya.

Di dalam kehidupan rumah tangga, tidak puas dengan pasangannya banyak yang melakukan konpensasi atau pelarian dengan curhat dengan seseorang yang kebetulan memberikan respon untuk menanggapi keluh-kesah, yang pada gilirannya mereka menjadi akrab dan sebagian besar dari padanya akhirnya menjadi teman perselingkuhan yang tidak direncanakan semula.

Dalam kehidupan rumah tangga prihal pertengkaran adalah hal yang biasa, namun itu menjadi luar biasa jika diceritakan ke luar dalam bentuk curhat kepada teman-temannya baik yang ada seperti yang dilakukan baik itu melalui Facebook, Tweeter, dan lain sebagainya.

Singkat cerita dari hasil pengalaman saya sebagai Pengacara yang banyak menangani kasus perceraian 80% sebab perceraian terjadi akibat terjadinya perselihan dan pertengkaran yang sulit didamaikan, apalagi masing-masing pihak baik isteri maupun pihak suami merasa pertengkaran yang terjadi telah menyinggung harga diri, bahkan tidak sedikit pula dalam pertengkaran tersebut terjadi pula KDRT.

Kalau sudah terjadi perceraian bagi yang telah punya anak tentu pada gilirannya menimbulkan masalah tersendiri bagi tumbuh kembang anak yang tidak lagi bisa hidup dengan baik dalam membangun masa depannya karena tidak lagi mendapat perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya. Egonya orang tua telah mengorbankan kepentingan masa depan anak. Inilah yang terjadi.