Alasan-alasan Perceraian yang Dapat diajukan ke Pengadilan Agama/Negeri

alasan perceraian

Pernikahan memang sudah menjadi harapan bagi seorang laki-laki dan perempuan yang sudah mencapai waktunya untuk melakukan pernikahan, Karena sudah merupakan sifat dasar manusia yang ingin hidup bersama, namun didalam hukum dan agama untuk agar dianggap sah seorang laki-laki dan perempuan yang ingin hidup bersama, dalam hukum dan agama sudah ditentukan mengenai aturannya, yaitu melalui pernikahan. Tujuan pernikahan adalah untuk mewujudkan suatu keluarga yang sakinah,mawadah dan warramah, disamping itu didalam hukum perdata menyebutkan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk membangun keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha Esa.

Namun tidak sedikit keluarga  ditengah perjalanannya  yang semula baik-baik saja, bisa menjadi berantakan dalam artian satu sama lain sudah tidak akrab, sudah berbeda pandangan, dan banyak sekali perbedaan yang terjadi, yang membuat keluarga tersebut tidak harmonis seperti tujuan semua.

Dari kejadian-kejadian tersebut, timbullah pemikiran untuk bercerai dikarenakan sudah tidak ada kecocokan lagi antara satu dengan yang lainnya, namun bagi keluarga yang sudah memilih jalan untuk bercerai, tidak semudah yang dibayangkan bisa bercerai  begitu saja. Menurut KUHPerdata dalam Pasal 207 menyebutkan bahwa perceraian merupakan penghapusan perkawinan dengan putusan hakim, atas tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu berdasarkan alasan-alasan yang tersebut dalam Undang- Undang. Dalam pasal 39 ayat 1 UU tentang perkawinan menyatakan bahwa Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

Didalam UU No 1 Tahun 1974 Tentang perkawinan sudah diatur mengenai alasan-alasan untuk bercerai yang kuat untuk diajukan ke pengadilan, alasan-alasan tersebut tercantum didalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, yaitu sebagai berikut :

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturutturut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
  6. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Di dalam  KHI (Kompilasi Hukum Islam) terdapat alasan-alasan perceraian yang tercantum  didalam pasal 116 KHI. yakni sebagai berikut :

  1. Suami melanggar taklik talak.
  2. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Dua alasan tersebut bisa ditambahkan untuk melengkapi alasan-alasan untuk perceraian Namun hanya khusus bagi orang yang beragama islam.

Berdasarkan UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan mengenai perceraian sudah ada ketentuan yang mengatur, terdapat di dalam pasal 39 UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang menyatakan bahwa :

  1. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
  2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri.
  3. Tatacara perceraian di depan sidang Pengadilan diatur dalam peraturan perundangan tersendiri.

Bagi seorang suami yang ingin bercerai, suami harus mengajukan  permohonan cerai talak ke pengadilan yang bersangkutan, begitupun istri, istri juga harus mengajukan gugatan cerai ke pengadilan yang bersangkutan. Karena perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang pengadilan.

Untuk menentukan dimana gugatan diajukan, bagi istri yang ingin menggugat cerai maka gugatan diajukan ke tempat dimana suami tinggal/tempat kediaman suami, sebaliknya bagi suami yang ingin mengajukan, maka permohonan diajukan dimana tempat tinggal istri/tempat kediaman suami.

Apabila anda merasa alasan-alasan diatas terjadi dikehidupan rumah tangga anda, dan sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup bersama, maka alasan-alasan diatas sudah kuat secara hukum yang bisa dijadikan dasar untuk bercerai.

 

Penulis :

ZAIN NURROHMAN, SH.
Pengacara Di Kantor Hukum MSA LUBIS & PARTNERS

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment